Project Story
BRI SOHO Mataram | Archwork
Sebuah kawasan tidak selalu harus memilih antara efisiensi dan kenyamanan. Pada proyek BRI SOHO Mataram, keduanya justru dirajut menjadi satu kesatuan.
Project Story
Di tengah ritme Jakarta yang serba cepat, rumah sering kali dipahami sebagai tempat untuk beristirahat setelah hari yang panjang. Namun bagi Wahana Architects, rumah memiliki makna yang lebih luas. Rumah adalah ruang yang mempertemukan keluarga, menyambut sahabat, dan membuka percakapan yang mungkin tidak pernah terjadi di tempat lain.
Gagasan itulah yang melahirkan EL House, sebuah hunian seluas 1.158 meter persegi yang dibangun di atas lahan seluas 730 meter persegi. Lebih dari sekadar tempat tinggal, proyek ini dirancang sebagai ruang yang menghidupkan kembali esensi kebersamaan melalui arsitektur yang hangat, terbuka, dan mengalir.
Sejak awal, desain EL House tidak berangkat dari keinginan menciptakan rumah yang monumental ataupun penuh gestur formal. Yang menjadi titik tolak justru sebuah pertanyaan sederhana: bagaimana arsitektur dapat membuat orang ingin tinggal lebih lama?
Jawabannya diwujudkan melalui ruang-ruang yang mengundang interaksi secara alami. Bukan hanya bagi anggota keluarga, tetapi juga bagi kerabat, teman dekat, hingga relasi profesional yang datang berkunjung. Alih-alih memisahkan aktivitas secara kaku, rumah ini membangun hubungan yang cair di antara berbagai fungsi sehingga setiap pertemuan dapat berlangsung tanpa terasa dibatasi oleh ruang.
Di pusat rumah terdapat area living dan dining yang dirancang oleh Wahana Architects sebagai inti dari seluruh komposisi. Dari ruang inilah seluruh sirkulasi berkembang ke berbagai bagian rumah, menciptakan organisasi ruang yang intuitif sekaligus efisien. Denah terbuka memungkinkan berbagai aktivitas berlangsung secara bersamaan, mulai dari makan malam keluarga yang intim hingga jamuan dengan jumlah tamu yang lebih besar.
Keberadaan dapur berstandar profesional semakin memperkuat konsep tersebut. Tidak lagi ditempatkan sebagai area servis yang tersembunyi, dapur menjadi bagian dari pengalaman sosial, tempat proses memasak dan berbincang berlangsung dalam ruang yang sama.
Secara arsitektural, EL House dibangun melalui pendekatan layering, sebuah konsep yang tidak hanya membentuk fasad, tetapi juga menentukan bagaimana ruang dirasakan. Hunian ini terbagi menjadi dua massa bangunan yang dihubungkan oleh sebuah ruang transisi memanjang. Di antara keduanya hadir kolam reflektif yang membentuk jeda visual sekaligus pengalaman yang lebih kontemplatif.
Perjalanan dari satu bagian rumah menuju bagian lainnya menjadi lebih dari sekadar perpindahan. Air, cahaya, dan lanskap bekerja bersama menciptakan momen untuk memperlambat langkah, sebelum memasuki ruang berikutnya. Alih-alih menjadi koridor, ruang transisi ini menghadirkan pengalaman yang nyaris meditatif.
Salah satu elemen paling menonjol yang disematkan Wahana Architects pada EL House adalah secondary skin bangunan yang berwarna cokelat, serta membungkus salah satu sisi bangunan. Elemen ini tidak hanya berfungsi sebagai pelindung terhadap panas matahari, tetapi juga membangun kedalaman visual pada fasad.
Permainan antara bidang masif, ruang kosong, permukaan air, dan lapisan kulit bangunan menciptakan komposisi yang terus berubah mengikuti arah cahaya sepanjang hari. Pendekatan tersebut menghadirkan ekspresi arsitektur yang tenang namun berkarakter. Artinya, bangunan ini tidak mencari perhatian secara berlebihan, tetapi meninggalkan kesan yang kuat.
Yang menarik dari EL House bukanlah bentuknya semata, melainkan bagaimana setiap keputusan desain selalu kembali pada hubungan antarmanusia. Kejelasan tata ruang membuat rumah terasa mudah dipahami.
Material dipilih untuk menghadirkan kehangatan tanpa kehilangan kesan kontemporer. Sementara keterhubungan antar-ruang memungkinkan penghuni tetap merasa dekat, meski menjalankan aktivitas yang berbeda.
Tidak ada ruang yang benar-benar berdiri sendiri. Seluruh bagian rumah saling terhubung melalui pandangan, cahaya, maupun pengalaman bergerak di dalamnya. Pendekatan inilah yang menjadikan EL House terasa inklusif sekaligus intim. Ini menjadi sebuah rumah yang tidak hanya dirancang untuk dihuni, tetapi juga untuk menjadi tempat berbagi waktu.
Di tengah kecenderungan rumah-rumah modern yang sering menonjolkan bentuk ikonis atau kemewahan visual, EL House mengambil jalan yang lebih tenang. Bagi Wahana Architects dalam proyek ini, arsitektur tidak digunakan untuk mendominasi, melainkan untuk menciptakan suasana. Setiap ruang, material, dan transisi dirancang agar penghuni dapat bergerak dengan alami, merasa nyaman, dan menikmati kehadiran satu sama lain
Pada akhirnya, EL House mengingatkan bahwa kualitas sebuah rumah tidak selalu diukur dari seberapa besar atau seberapa mencolok tampilannya. Kadang, nilai sebuah hunian justru lahir dari kemampuannya menciptakan ruang bagi percakapan, kebersamaan, dan momen-momen sederhana yang terus dikenang.
Tell us your exciting project and get the chance to be featured on Ruas website and media
Connect With Us