Project Story
El House | Wahana Architects
Di tengah ritme Jakarta yang serba cepat, rumah sering kali dipahami sebagai tempat untuk beristirahat setelah hari yang panjang. Namun rumah memiliki makna lebih.
Project Story
Di ujung timur Indonesia, tepatnya di Jayapura, sebuah toko roti keluarga yang telah hadir selama tiga generasi memilih memulai babak baru. Bukan sekadar memperbarui tampilan, tetapi mendefinisikan kembali bagaimana sebuah bakery dapat menjadi ruang yang membangun pengalaman, menghadirkan kebanggaan lokal, sekaligus menjadi wajah baru kota.
Melalui rancangan Upper Room Collaborative Studio, SAGA Bakery menjelma menjadi lebih dari sekadar tempat membeli roti. Proyek ini hadir sebagai ruang perjumpaan yang hangat, terbuka, dan mengundang siapa pun untuk singgah, menikmati aroma roti yang baru dipanggang, serta merasakan atmosfer yang dirancang dengan penuh perhatian.
Sebagai bisnis keluarga yang telah tumbuh bersama masyarakat Jayapura selama puluhan tahun, SAGA Bakery memiliki tantangan yang tidak sederhana. Rebranding bukan hanya soal mengganti identitas visual, tetapi juga menjaga kedekatan emosional yang telah terbentuk dengan pelanggan setia
Di saat yang sama, pemilik memiliki visi yang lebih besar, yakni menghadirkan bakery berkelas nasional yang lahir dari Papua, tanpa kehilangan karakter lokal yang telah menjadi bagian dari sejarahnya. Desain interior kemudian menjadi medium untuk menjembatani dua dunia tersebut, yaitu menghormati masa lalu sambil menyambut masa depan.
Sejak memasuki ruang, pengunjung langsung disambut oleh rangkaian lengkungan (arches) dan portal yang menjadi elemen utama desain. Bukan hanya sekadar menjadi bentuk dekoratif, lengkungan tersebut berfungsi sebagai bahasa arsitektur yang membangun identitas ruang. Terinspirasi dari arsitektur klasik, bentuk-bentuk ini merepresentasikan kekuatan, kontinuitas, dan perjalanan panjang perusahaan yang telah melewati beberapa generasi
Namun, interpretasinya jauh dari kesan historis yang berat. Upper Room Collaborative Studio menerjemahkan elemen klasik tersebut ke dalam komposisi yang lebih ringan dan kontemporer, dengan permainan warna yang berani, serta proporsi yang bersih dan modern. Lengkungan-lengkungan ini bahkan disusun berdasarkan struktur eksisting bangunan sehingga terasa menyatu secara alami dengan ruang yang ada.
Letaknya yang berada di lantai dasar sebuah pusat perbelanjaan dengan posisi tepat di area masuk, memberikan keuntungan sekaligus tantangan tersendiri bagi Upper Room Collaborative Studio dalam mendesain SAGA Bakery. Fasad kaca yang menghadap ke timur memungkinkan cahaya alami memenuhi ruang sepanjang hari. Namun, paparan sinar matahari langsung tentu bukan kondisi ideal bagi produk bakery.
Upper Room Collaborative Studio kemudian merespons situasi tersebut melalui permainan portal dan lapisan ruang yang memungkinkan cahaya masuk secara maksimal tanpa mengenai produk secara langsung. Pendekatan ini menciptakan suasana yang terang sekaligus nyaman, serta membentuk alur sirkulasi yang terasa intuitif.
Tidak langsung dihadapkan pada seluruh produk, pengunjung diajak melewati rangkaian ruang secara bertahap. Setiap portal menjadi transisi menuju pengalaman berikutnya, mulai dari area pengenalan, display, hingga akhirnya tiba di etalase utama yang menampilkan aneka roti, pastry, cake, dan hidangan gurih. Perjalanan sederhana menuju meja kasir pun berubah menjadi pengalaman ruang yang memiliki ritme.
Identitas brand diterjemahkan melalui pemilihan material yang berani namun tetap hangat. Bata merah menjadi elemen dominan yang memperkuat karakter visual SAGA Bakery, dipadukan dengan tekstur kayu berwarna terang serta batu alam yang menghadirkan keseimbangan.
Perpaduan material tersebut bukan tanpa tantangan. Mengolah bata, kayu, tanah liat, dan batu ke dalam bentuk-bentuk lengkung membutuhkan tingkat presisi yang tinggi agar setiap elemen tetap proporsional dan menyatu sebagai satu kesatuan desain. Hasil akhirnya menghadirkan ruang yang terasa kaya akan tekstur, tetapi tetap bersih secara visual.
Di balik tampilannya yang sederhana, proyek ini melibatkan proses konstruksi yang cukup kompleks. Sebagian besar elemen interior diproduksi dalam skala penuh di Jakarta oleh tenaga kerja dan fasilitas manufaktur yang memiliki spesialisasi pada bentuk-bentuk lengkung. Setelah selesai, seluruh komponen dikirim menggunakan kontainer menuju Jayapura dan dirakit di lokasi layaknya menyusun kepingan puzzle.
Metode prefabrikasi tersebut memungkinkan kualitas pengerjaan tetap terjaga sekaligus mempercepat proses instalasi di lapangan. Seluruh prosesnya diselesaikan dalam waktu sekitar empat minggu
Sejak beroperasi, SAGA Bakery tidak hanya menghadirkan wajah baru bagi bisnis keluarga ini, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai salah satu destinasi kuliner di Jayapura. Lebih jauh lagi, proyek ini menjadi interior pertama dari Papua yang masuk dalam daftar shortlist World Architecture Festival 2024, sebuah pencapaian yang membawa nama Jayapura dan Papua ke panggung arsitektur internasional.
Pada akhirnya, Upper Room Collaborative Studio melalui SAGA Bakery menunjukkan bahwa desain bukan sekadar tentang membentuk ruang yang indah. Ketika identitas lokal, strategi bisnis, dan pengalaman pengunjung dirangkai secara utuh, sebuah bakery dapat berkembang menjadi lebih dari tempat membeli roti. Ia menjadi ruang yang menyimpan cerita, membangun kebanggaan, dan perlahan menjelma sebagai bagian dari wajah sebuah kota
Tell us your exciting project and get the chance to be featured on Ruas website and media
Connect With Us